admin Thursday, 22 January 2026
Masih banyak anggapan bahwa tinggi badan yang tidak maksimal pasti disebabkan oleh kurang nutrisi. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Tinggi badan dan kondisi tubuh seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, dan nutrisi hanyalah salah satunya. Secara ilmiah, pertumbuhan tinggi badan ditentukan oleh kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. Genetik berperan besar dalam menentukan potensi tinggi badan seseorang, sementara nutrisi berperan sebagai pendukung agar potensi tersebut dapat tercapai secara optimal.
Namun, selain genetik dan nutrisi, ada faktor lain yang tidak kalah penting, seperti keseimbangan hormon, kondisi kesehatan secara umum, kualitas tidur, serta aktivitas fisik. Karena itu, tinggi badan yang tidak terlalu tinggi tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan bahwa seseorang mengalami kekurangan nutrisi.
Kekurangan nutrisi umumnya tidak hanya tercermin dari tinggi badan. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain berat badan yang sulit naik, tubuh yang mudah lemas, frekuensi sakit yang cukup sering, serta laju pertumbuhan tinggi badan yang melambat jauh dibandingkan anak atau remaja seusianya.
Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, atau justru tidak mampu memanfaatkan nutrisi secara optimal. Dalam banyak kasus, hal ini berkaitan dengan perbedaan kemampuan metabolisme dan penyerapan nutrisi pada setiap individu. Tidak semua tubuh memproses nutrisi dengan cara yang sama. Faktor genetik memengaruhi bagaimana tubuh menyerap dan menggunakan zat gizi penting seperti zat besi, kalsium, vitamin, dan antioksidan. Pada beberapa individu, efisiensi penyerapan nutrisi yang lebih rendah membuat kebutuhan zat gizi tertentu menjadi lebih tinggi.
Inilah sebabnya dua orang dengan pola makan yang serupa dapat menunjukkan hasil pertumbuhan yang berbeda. Perbedaan ini bukan semata-mata disebabkan oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, melainkan oleh bagaimana tubuh memanfaatkan nutrisi tersebut.
Untuk memahami kondisi tersebut secara lebih akurat, pendekatan berbasis genetik menjadi semakin relevan. Melalui tes genomik GenKU, kebutuhan tubuh dapat dipetakan berdasarkan data genetik masing-masing individu.
Hasil tes GenKU ini dapat memberikan gambaran mengenai:
Pola metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis nutrisi, seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral
Respons tubuh dalam menyerap nutrisi, apakah berjalan optimal atau cenderung melambat
Rekomendasi jenis nutrisi dan pola makan yang paling sesuai dengan kondisi tubuh
Jenis aktivitas fisik atau olahraga yang lebih efisien dan sesuai dengan karakter metabolisme tubuh
Kecenderungan tubuh terhadap kebiasaan tertentu, seperti konsumsi kopi, teh, atau kebiasaan ngemil
Melalui pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa tubuh yang bertubuh lebih pendek tidak selalu mengalami kekurangan nutrisi. Pada sebagian individu, asupan gizi sudah tercukupi, namun cara tubuh memproses dan memanfaatkannya berbeda. Dengan pendekatan yang lebih tepat sasaran, pengaturan nutrisi dan gaya hidup dapat disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing.
Untuk memahami lebih dalam bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak makan, tetapi juga oleh cara tubuh memproses nutrisi secara genetik, yuk ikuti webinar berikut:
Gizi dan Metabolisme Anak dari Sudut Pandang Genetik
Detail Kegiatan:
📅 Sabtu, 24 Januari 2026
🕒 15.30 – 17.00 WIB
📍 Live melalui Zoom Meeting
🆓 Gratis
Narasumber:
Harry Freitag LM, S.Gz., M.Sc., RD., PhD
Nutrigenomic Counselor
Webinar ini akan membahas:
Peran genetik dalam tumbuh kembang anak
Mengapa nutrisi yang sama bisa memberi hasil berbeda
Cara memahami kebutuhan gizi anak secara lebih personal
Untuk informasi lanjutan dan diskusi bersama komunitas, peserta dapat bergabung melalui grup berikut:
👉 https://chat.whatsapp.com/Hvhzeydmq7l4VltJZYlBlE