FAQ

Segala Hal yang Perlu Anda Tahu Mengenai Biomarker Epigenetik untuk Penuaan Biologis

Pernahkah Anda bertemu seseorang berusia 70-an yang tampaknya tak mengalami proses penuaan? Usia biologis memberi kita jawabannya.

“Inilah saatnya untuk mengklasifikasikan penuaan biologis sebagai penyakit. Dan dengan klasifikasi tersebut, memungkinkan kita untuk merencanakan dan menangani penuaan daripada menerima penuaan sebagai hal yang tidak dapat dihindari” Bulterijs et al.

Penyakit adalah fenomena kompleks yang didefinisikan sebagai kelainan struktur atau fungsi tubuh. Penuaan dipandang sebagai proses alami yang ditandai dengan penurunan integritas fisiologis seseorang, sehingga menyebabkan gangguan fungsi dan peningkatan kerentanan terhadap kematian.


Penuaan adalah faktor risiko penyakit kronis terbesar. Melemahnya integritas sel, jaringan, dan organ dari waktu ke waktu, menyebabkan timbulnya berbagai kondisi dan penyakit.

Mendahului pengobatan modern, penyakit kronis dipandang sebagai aspek penuaan yang tak terelakkan. Karena adanya persepsi mengenai penyakit yang berkaitan dengan usia ini, kondisi kronis tersebut tidak akan menerima intervensi terapeutik apa pun. Kondisi seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes adalah penyebab utama kematian di AS dan banyak penyakit kronis berkaitan dengan percepatan penuaan normal dan meningkatkan risiko penyakit.

Terdapat beberapa ciri-ciri penuaan yang dapat menjelaskan kerusakan tubuh dan keterkaitan antara pengaruh ini terhadap penuaan tubuh. Sembilan ciri tentatif penuaan yang merepresentasikan kondisi umum penuaan yaitu ketidakstabilan genom, pemendekan telomer, perubahan epigenetik, memburuknya proteostasis, deregulasi nutrient-sensing, disfungsi mitokondria, penuaan sel, menurunnya kemampuan sel punca, dan perubahan komunikasi antar sel.

Kesembilan ciri penuaan tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori. Penyebab utama penuaan adalah agen pemburukan tubuh. Karakteristik umum dari ciri utama penuaan adalah semuanya bersifat sangat negatif. Yang termasuk ciri utama penuaan adalah kerusakan DNA, mutasi DNA mitokondria dan hilangnya telomer, perubahan epigenetik, dan kerusakan proteostasis. Ciri-ciri penuaan yang antagonistik memiliki efek sebaliknya dan bertujuan untuk melindungi organisme dari kerusakan atau dari minimnya nutrisi. Tetapi, ketika semakin buruk atau kronis, karakter antagonistik tersebut justru akan menyebabkan kerusakan lebih parah pada tubuh. Ciri antagonistik meliputi respons terhadap kerusakan dan deregulasi nutrient-sensing, disfungsi mitokondria, dan penuaan seluler. Ciri penuaan terakhir adalah ciri integratif yang terjadi ketika akumulasi kerusakan yang disebabkan oleh ciri utama dan antagonis tidak dapat diimbangi oleh mekanisme homeostatis jaringan. Ciri integratif penuaan adalah menurunnya kemampuan sel punca dan perubahan komunikasi antar sel.

Setiap ciri penuaan tersebut muncul dengan sendirinya selama proses normal penuaan dan berperan dalam percepatan penuaan. Memahami keterkaitan antara masing-masing ciri ini sangat penting untuk menemukan cara dalam menangani penuaan dan penyakit terkait penuaan.

Bertambah tua, secara baik atau buruk, adalah inti dari perjalanan manusia. Kurang dari sepuluh tahun yang lalu, kami percaya bahwa proses penuaan adalah unsur tak tergoyahkan dalam kehidupan, seperti tinggi badan atau warna mata Anda. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan, kami memiliki pemahaman baru bahwa cara kita menua dapat diatur sama halnya seperti menjaga berat badan atau jarak tempuh Anda.

Ada semakin banyak bukti bahwa sesuatu yang dianggap sebagai proses penuaan yang normal sebenarnya dapat diubah. Kita tidak boleh menyerah pada perkembangan dan percepatan penuaan karena ada banyak aspek penuaan yang sebenernya bisa dimanipulasi.

Kita perlu mengubah cara kita memandang penuaan dengan menganggap penuaan sebagai aspek yang dapat dibentuk daripada aspek kehidupan yang tetap. Begitu kita mulai menganggap penuaan sebagai hal yang dinamis dan dapat berubah, kita dapat mulai memahami mengapa setiap orang menua secara berbeda.

Umur Biologis vs Umur Kronologis

Kita selalu menganggap penuaan sebagai jumlah tahun yang telah berlalu sejak lahir. Tetapi bagaimana jika ada cara yang lebih akurat untuk menentukan usia Anda daripada hanya jumlah lilin pada kue? Usia kronologis hanyalah salah satu bagian dari teka-teki untuk menentukan bagaimana kita menua.

Usia biologis adalah berapa usia sel kita sebenernya yang ditentukan melalui biomarker. Biomarker tersebut mampu mengukur keadaan biologis sel, jaringan, dan organ secara objektif.

Usia kronologis adalah berapa umur kita dalam beberapa tahun, atau berapa banyak lilin yang ada di kue ulang tahun Anda.

Penuaan adalah faktor risiko utama sebagian besar penyakit dan gangguan kronis. Konsep rumit inilah yang mengukur seberapa baik fungsi tubuh Anda dan bergantung pada kondisi biologis sistem fisiologis Anda.

Penggunaan biomarker penuaan memungkinkan kita untuk menentukan usia yang sebenarnya tanpa bergantung pada berapa usia kita secara kronologis.

Kita telah lama takjub oleh fakta bahwa beberapa orang tampak menua dengan cepat dalam hal kesehatan dan penampilan, sementara yang lain menua dengan lebih lambat.

Fenotip Anda adalah sekumpulan karakteristik yang berinteraksi dengan lingkungan dan gen Anda. Variasi fenotip dapat menjelaskan penyebab beberapa orang berusia 40 tahun sulit bangun dari tempat tidur sementara beberapa orang berusia 80 tahun dapat berlari maraton.

Gaya hidup dan kebiasaan kita sangat mempengaruhi ekspresi gen. Pengaruh pada gen kita ini pada akhirnya akan memengaruhi karakteristik fisik. Orang yang berolahraga secara teratur dan makan dengan baik biasanya memiliki fenotip yang lebih muda daripada mereka yang tidak menjalani gaya hidup sehat. Menemukan cara handal untuk mengetahui pengaruh  gaya hidup terhadap fenotip Anda dan bagaimana pengaruhnya pada usia biologis Anda,  adalah tujuan besar berikutnya dalam praktik kesehatan integratif.

Biomarker adalah alat diagnostik yang menggunakan molekul biologis yang ditemukan di dalam tubuh. Biasanya, biomarker ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lain atau jaringan dan merupakan penanda proses/kondisi normal atau abnormal, atau penyakit. Biomarker juga dapat digunakan untuk melihat seberapa baik respons tubuh terhadap pengobatan yang diberikan untuk kondisi tertentu.

Definisi Organisasi Kesehatan Dunia tentang biomarker mencakup “hampir semua pengukuran yang mencerminkan interaksi antara sistem biologis dan potensi bahaya, yang mungkin bersifat kimia, fisik, atau biologis. Respon yang diukur mungkin fungsional dan fisiologis, biokimia pada tingkat sel, atau interaksi molekuler.”

Sejak tahun 1980-an telah disadari bahwa biomarker penuaan yang valid dan andal diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang dalam memahami, memperlambat, dan mengembalikan proses penuaan. Sejak saat itu, upaya pencarian biomarker penuaan yang akurat meningkat pesat. Ada beberapa biomarker penuaan yang terkenal, di antaranya adalah telomer, profil transkriptom, metabolisme protein dan lipid, dan nutrient sensing. Semua jenis biomarker ini telah digunakan untuk menentukan usia biologis, namun tidak satupun yang memenuhi syarat sebagai biomarker yang baik.

Biomarker harus dapat memberikan informasi klinis yang relevan dan harus efektif. Biomarker yang baik dapat direproduksi, tepat, dan akurat. Jika terdapat sebuah biomarker yang andal, biomarker tersebut harus sudah dipelajari dan direplikasi secara ekstensif sehingga meminimalisir potensi kesalahan. Jika biomarker yang Anda gunakan untuk menilai fungsi biologis menyisakan ruang untuk keraguan, kemungkinan besar itu bukan alat diagnostik yang bagus. Biomarker yang andal untuk penuaan harus akurat dan spesifik, itulah sebabnya hingga saat ini belum ada tes usia biologis yang bagus.

Biomarker adalah ukuran proses biologis yang objektif dan terukur. Biomarker yang baik dapat membedakan orang-orang yang memiliki usia kronologis yang sama, namun memiliki tingkat penuaan yang berbeda. Biomarker yang baik tersebut juga telah dipelajari di berbagai demografi dan dalam jangka waktu yang lama.

Biomarker kuantitatif penuaan juga menentukan indicator penuaan yang sehat dan, lebih jauh lagi, dapat memprediksi masa hidup. Selain itu, biomarker penuaan dapat mempersempit fitur biologis tertentu untuk menjelaskan proses biologis di balik penuaan atau penyakit terkait penuaan.

Selama beberapa dekade, para peneliti telah berupaya menemukan biomarker penuaan. Biomarker ini akan menjadi tes tunggal yang sangat akurat untuk mengukur proses penuaan biologis Anda dan bahkan dapat memprediksi usia biologis Anda.

Epi – adalah prefiks “di atas” dalam bahasa Yunani. Genetika adalah studi tentang DNA kita. Sehingga, epigenetik berarti studi tentang segala sesuatu yang berada di atas dan di luar genom.

Setiap sel Anda mengandung satu dari 22.000 gen Anda, tetapi tidak semuanya harus aktif sepanjang waktu. Gen tersebut perlu dihidupkan atau dimatikan, di jaringan yang tepat, pada saat yang tepat. Artinya, kami sedang mempelajari perubahan pada DNA Anda dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh alih-alih menginterpretasikan kodenya.

Seringkali, epigenetik lebih berguna daripada genetika karena memungkinkan kita untuk melihat bagaimana aktivitas materi genetik dalam tubuh Anda daripada hanya melihat komponennya. Ilmu genetika tradisional seperti halnya kita melihat bohlam dan komponennya tetapi kita tidak mengetahui apakah bohlam itu menghasilkan cahaya. Epigenetik memberi tahu kami apakah bohlam dalam kondisi menyala atau mati.

Perubahan epigenetik mengubah struktur fisik DNA tanpa mengubah kode genetik yang sebenarnya. Metilasi DNA adalah jenis perubahan epigenetik yang paling terkenal. Metilasi DNA merupakan penambahan tutup kimiawi ke bagian tertentu molekul DNA dan mampu memanipulasi ekspresi gen tertentu.

Epigenetik dipengaruhi oleh berbagai kondisi. Sangat banyak sekali jumlah faktor yang dapat memengaruhi ekspresi gen Anda. Lingkungan dan gaya hidup dapat berinteraksi langsung dengan genom Anda dan memengaruhi modifikasi epigenetik. Bila kita mengetahui mekanisme kedua faktor tersebut dalam mengubah metilasi DNA, maka kita dapat mengetahui usia atau kerentanan kita terhadap berbagai macam kondisi.

Semua orang mengetahui usia kronologis mereka. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan telah menciptakan ukuran usia lain yang disebut usia biologis. Pengukuran usia ini didasarkan pada penelitian statistik yang dapat memprediksi seberapa sehat Anda dan bahkan kapan Anda akan meninggal dunia.

Usia biologis Anda lebih akurat dalam memprediksi rentang kesehatan (seberapa sehat Anda) dan umur (berapa lama Anda akan hidup) daripada usia kronologis. Bahkan, usia biologis dapat dikorelasikan dengan kondisi terkait penuaan seperti penyakit Alzheimer dan kanker.

Idealnya, setiap orang pasti menginginkan usia biologisnya kurang dari usia kronologisnya. Hal ini berarti, Anda menjalani gaya hidup yang sehat dan akan membantu Anda tetap bebas dari penyakit kronis lebih lama selama hidup.

Baru-baru ini, biomarker berbasis metilasi DNA ditemukan oleh ahli biologi molekuler yang inovatif. Usia epigenetik adalah usia Anda yang ditentukan dari algoritme matematika canggih berdasarkan status metilasi di beberapa titik spesifik dalam genom Anda.

Penentuan usia biologis dengan epigenetik telah meruntuhkan harapan sebelumnya untuk menemukan biomarker usia yang dapat diandalkan. Proses penuaan dimulai di dalam sel kita sebelum tanda-tanda fisiologis penuaan mulai terlihat. Metilasi DNA adalah indikator perubahan terkait usia yang terbaik dan merupakan biomarker usia yang paling banyak dipelajari.

Penggunaan metilasi DNA sebagai biomarker penuaan dapat mendeteksi percepatan penuaan bahkan sebelum tanda-tanda penuaan mulai muncul.

Penentuan usia biologis telah sepenuhnya berubah, mengubah cara pandang kita dalam mengenali perkembangan penyakit kronis. Usia biologis epigenetik adalah metrik tunggal yang dapat mengambil semua data kesehatan penting (berat badan, jenis kelamin, pengobatan, frekuensi olahraga, dll.) tentang seseorang dan melaporkannya sebagai metrik tunggal untuk mengetahui seberapa sehat Anda!

Usia biologis epigenetik adalah perkiraan usia seseorang dalam beberapa tahun berdasarkan keadaan metilasi titik-titik tertentu dalam DNA. Pola tanda metilasi ini akan berubah-ubah selama perjalanan hidup, dan dapat mengidentifikasi usia biologis seseorang, yang dapat tertinggal atau melebihi usia kronologis. Penuaan epigenetik ditunjukkan dengan rasio usia epigenetik di atas satu. Artinya, Anda menua lebih cepat dari yang seharusnya! Pada dasarnya, kami ingin menghindari percepatan penuaan epigenetik karena sangat berkorelasi dengan penyakit dan berbagai dampak negatif lainnya.

Jam epigenetik dibuat dari algoritme matematika yang menggunakan nilai status metilasi suatu titik spesifik dalam genom untuk memperkirakan usia seseorang. Ini adalah indikator paling akurat untuk menentukan usia biologis. Ada banyak jam epigenetik lain yang juga memanfaatkan penanda metil yang melekat pada DNA Anda. Sebagian besar algoritma ini menentukan usia biologis yang merupakan angka tetap berdasarkan usia biologis Anda saat Anda diuji. Sementara algoritma jam epigenetik lainnya menentukan laju penuaan biologis Anda, yaitu seberapa cepat Anda menua.

(IEAA) Modifikasi epigenetik pada DNA kita bukanlah satu-satunya perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Salah satu perubahan terbesar pada kesehatan dan tubuh kita disebut immunosenescence. Immunosenescence adalah suatu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh kita menjadi lebih lemah dan kurang berfungsi seiring bertambahnya usia. Dalam darah, kondisi ini ditandai dengan jumlah sel T naif yang lebih sedikit dan jumlah sel T tua yang lebih banyak. IEAA mendeteksi percepatan usia seluler terlepas dari proporsi sel darah, yang diketahui berubah seiring bertambahnya usia.

Karena DNA sel-sel ini proporsinya tidak sama seiring dengan bertambahnya usia, kita sering ingin mengontrolnya. Oleh karena itu, usia epigenetik intrinsik adalah ketika kita mengesampingkan perubahan jenis sel tersebut dalam penghitungan penuaan epigenetik. Dalam istilah ilmiah, percepatan usia epigenetik intrinsik mengukur efek penuaan epigenetik “murni” yang tidak dipengaruhi oleh perbedaan jumlah sel darah.

(EEAA) Percepatan usia epigenetik ekstrinsik juga penting. Percepatan usia epigenetik ekstrinsik adalah saat kita memasukkan Kembali faktor sel-sel kekebalan ke dalam penghitungan usia epigenetik. Secara ilmiah, percepatan usia epigenetik ekstrinsik mengidentifikasi perubahan terkait usia pada komposisi sel darah dan perubahan epigenetik intrinsik. Percepatan usia epigenetik ekstrinsik menggabungkan ukuran intrinsik serta proporsi sel darah.

Meskipun ukuran intrinsik tampaknya menunjukkan konsistensi yang lebih besar di seluruh jenis sel dan organ, ukuran ekstrinsik tampaknya lebih cocok untuk menilai penurunan fungsi jaringan terkait usia. Hal ini disebabkan karena ukuran ekstrinsik menunjukkan asosiasi prediktif yang lebih kuat dengan waktu kematian daripada ukuran percepatan usia intrinsik.

Laju penuaan adalah kecepatan Anda menua. Laju penuaan merupakan perubahan usia biologis yang terjadi setelah setiap tahun kronologis berlalu. Laju penuaan normal akan sama dengan laju penuaan kronologis Anda. Artinya, Anda menua dengan laju satu tahun karena usia kronologis dan biologis Anda sama. Idealnya, kami ingin penuaan secara biologis lebih lambat daripada secara kronologis karena hal itu akan meningkatkan umur panjang dan vitalitas Anda.

Penuaan epigenetik lanjut ditandai dengan rasio EpiAge™ di atas satu. Berarti, melalui segi metilasi DNA Anda, Anda menua lebih cepat dari seharusnya! Inilah yang pada akhirnya ingin kami hindari karena usia epigenetik lanjut berkorelasi dengan penyakit penuaan dan kondisi kesehatan yang lebih buruk.

Percepatan penuaan: Rasio EpiAge™ Anda lebih cepat dari usia kronologis Anda. Seseorang yang usia epigenetiknya lebih besar dari usia kronologisnya (yaitu, individu yang menunjukkan “percepatan usia” epigenetik) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, bahkan setelah memperhitungkan faktor risiko yang telah diketahui sebelumnya.

Widya Genomic pencipta GenomAGE adalah perusahaan pengujian epigenetik yang menyadari perlunya informasi objektif terkait penuaan dan penyakit terkait penuaan. Kami ingin membantu pasien dan pemberi resep dalam hal mengobati penuaan sebagai penyakit dengan info terkini yang terbaik mengenai penuaan mereka sendiri.

GenomAGE melihat lebih dari 900.000 lokasi pada DNA, menjadikannya tes usia biologis paling kuat yang tersedia. Tapi bagaimana kita tahu kegunaan data ini untuk kesehatan Anda?

Jawabannya adalah kami menggunakan model matematika yang dibangun dengan pembelajaran komputer dan kecerdasan buatan. Model ini membantu merancang algoritma yang kuat. Pembuatan model ini dilakukan dengan melihat semua titik data yang kami input ke dalamnya. Sejauh ini, kami telah memasukkan hampir satu juta poin data yang berasal dari lebih dari 5.000 pasien ke dalam model matematika tersebut. Kami juga memasukkan variabel lain seperti tes darah, data pencitraan (seperti MRI), data genomik, data proteomik, data transkriptomik, dan bahkan riwayat kesehatan lainnya.

Algoritma kami telah terbukti dapat mengungguli semua jam biologis lain hingga saat ini. Salah satu hal terkuat tentang algoritme kami adalah kami memiliki ukuran sampel yang sangat besar untuk membantu memvalidasi. Algoritma ini memberi kami data paling signifikan secara statistik yang tersedia di bidang ini. Dikombinasikan dengan jumlah titik yang kami uji dan kovariat yang kami dapatkan dari mitra kami, kami memiliki basis data informasi epigenetik terbesar di dunia.

Dengan melihat semua data ini, model matematika ini dapat menemukan korelasi dengan akurasi yang sangat tinggi dan menghubungkan variabel-variabel tersebut dengan kondisi kesehatan. Jika 2.000 pasien menunjukkan metilasi pada DNA mereka di tempat yang sama, dan 1999 dari pasien tersebut mengidap Alzheimer, kita dapat mengatakan dengan tingkat kepastian yang tinggi bahwa lokasi pada DNA tersebut dapat membantu memprediksi risiko Alzheimer.

membandingkan usia biologis dan usia kronologis seseorang, kita dapat memprediksi risiko berbagai penyakit dan bahkan kapan mereka meninggal!

Widya Genomic berada di ujung tombak penelitian epigenetik di Indonesia. Kami menggunakan studi metilasi DNA dan datanya untuk menentukan berbagai metrik yang terkait dengan kesehatan Anda. Kami terus memperbarui pengujian kami untuk melaporkan informasi sebanyak mungkin tentang kondisi kesehatan Anda. Hal ini juga termasuk risiko berbagai kondisi dan penyakit yang mungkin Anda derita, seperti diabetes tipe 2 dan obesitas, serta kemampuan Anda untuk merespons terapi, seperti metformin.

Kami menentukan metrik kesehatan Anda berdasarkan metilasi di titik tertentu pada genom, yang dikenal sebagai CpG. CpG adalah titik pada DNA Anda yang ditempeli gugus metil. CpG menyusun 1,5% DNA Anda dan merupakan lokasi dalam genom Anda yang kami analisis untuk menilai usia biologis Anda. CpG adalah tempat basa nukleotida Anda, yaitu sitosin, diikuti oleh nukleotida guanin dalam urutan linier dan kedua nukleotida tersebut saling terikat dengan ikatan fosfat.

Tapi, bagaimana jika saya dapat memberi tahu Anda bahwa CpG dan tingkat metilasinya lebih dari sekadar menentukan usia biologis Anda? Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa metilasi DNA berperan penting dalam perkembangan banyak penyakit umum. Kami telah menemukan berbagai kondisi kesehatan yang dapat terdeteksi dengan metilasi di titik CpG ini.

  1. Perawatan terpersonalisasi
  2. Hasil secara real-time
  3. Mendekati karakter fenotip
  4. Masa depan dunia kedokteran

Usia biologis epigenetik adalah gambaran terbaik kondisi kesehatan secara keseluruhan. Kesehatan lebih dari tidak adanya penyakit!

Sebagian besar ilmuwan dan ahli medis profesional menggambarkan penuaan sebagai “penurunan komponen kebugaran suatu organisme secara terus-menerus karena degenerasi fisiologis internal”. [Fiorito].

Penuaan adalah faktor risiko utama sebagian besar penyakit dan kondisi yang membatasi rentang kesehatan. Oleh karena itu, intervensi pada model hewan yang bertujuan untuk memperpanjang umur seringkali mencegah atau menunda munculnya banyak penyakit kronis. Mengapa? Selama bertahun-tahun penjelasannya adalah bahwa penuaan itu sendiri adalah kondisi fisiologis, yang mendukung timbulnya banyak penyakit. Namun, hubungan antara penuaan dan penyakit kemungkinan jauh lebih kompleks.

Penuaan adalah hilangnya integritas fisiologis, dan merupakan faktor risiko utama sebagian besar patologi manusia, seperti kanker, diabetes, gangguan kardiovaskular, dan penyakit neurodegeneratif. Ciri-ciri penuaan ini berkontribusi pada proses penuaan dan menentukan karakteristik penuaan seseorang.

Penuaan adalah faktor risiko utama sebagian besar penyakit kronis dan kondisi lain yang memperpendek usia. Jadi masuk akal bila penuaan dijadikan target kesehatan yang optimal! Selain itu, spesifisitas dan keakuratan tes epigenetik menjadikannya metrik yang andal untuk menilai kesehatan dengan membatasi penuaan dan dengan demikian mengurangi faktor risiko penyakit yang signifikan.

Untungnya, penuaan epigenetik dapat dikembalikan dan dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan lingkungan.

Penuaan epigenetik dapat dikembalikan. Penuaan epigenetik dapat dikembalikan, jadi sangat penting untuk memahami perubahan metilasi DNA melalui penggunaan GenomAGE. Karena kita tahu bahwa penuaan dapat dikembalikan, kita dapat mengubah gaya hidup kita dan menggunakan GenomAGE untuk menunjukkan bahwa risiko penyakit dan kematian telah berkurang.

Saat ini, studi inovatif sedang dilakukan untuk mengungkap mekanisme yang dapat mengurangi usia biologis. Penelitian telah menunjukkan bahwa “stres” seperti puasa intermiten dapat mendorong tubuh Anda untuk mengaktifkan gen yang membantu memperbaiki DNA yang rusak dan melindungi kromosom. Uji coba TRIIM adalah contoh yang bagus untuk hal ini. Dalam uji coba tersebut, satu tim peneliti menjalankan empat tes jam epigenetik yang berbeda dan menemukan beberapa hasil yang menarik tentang usia biologis. Menggunakan protokol yang dapat meregenerasi timus (organ kecil di dada), mereka mengamati perubahan imunologi protektif yang menurunkan risiko penyakit yang terkait usia. Hasilnya terjadi pengurangan usia epigenetik rata-rata 1,5 tahun dari usia mereka setelah 1 tahun pengobatan.

Meskipun penanda epigenetik kita lebih stabil semasa dewasa, namun penanda tersebut masih bersifat dinamis dan dapat dimodifikasi oleh pilihan gaya hidup dan pengaruh lingkungan. Sekarang menjadi semakin jelas bahwa pengaruh epigenetik tak hanya terjadi saat di dalam kandungan, melainkan seumur hidup seseorang. Terdapat beberapa contoh epigenetik yang menunjukkan bahwa pilihan gaya hidup yang berbeda dan paparan lingkungan dapat mempengaruhi penanda pada DNA dan berperan dalam menentukan status kesehatan.

Kini lingkungan sedang diteliti sebagai pengaruh kuat penanda epigenetik dan kerentanan terhadap suatu penyakit. Polusi menjadi fokus utama bidang penelitian ini karena ilmuwan menemukan bahwa polusi udara dapat mengubah penanda metil pada DNA dan meningkatkan risiko penyakit degenerasi saraf pada seseorang. Menariknya, vitamin B dapat menanggulangi efek bahaya polusi terhadap epigenetik dan mungkin cukup baik untuk mengatasi efek negative polusi pada seluruh tubuh.

Penelitian membuktikan bahwa pemicu stress seperti puasa intermiten dapat memicu tubuh Anda untuk mengaktifkan gen yang dapat membantu memperbaiki DNA yang rusak dan melindungi kromosom. Ratusan penelitian menunjukkan bahwa restriksi diet dengan cara penghambatan nutrient-sensing dan jalur inflamasi, akan mengaktivasi beberapa jalur molecular yang memicu proteostasis, stabilitas genom, resistensi stress, dan fungsi sel punca. Data yang didapatkan dari primata mengindikasikan bahwa restriksi kalori yang dikombinasikan dengan modifikasi kualitas makanan menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan melemahkan degenerasi saraf akibat penuaan.

Diet telah terbukti dapat memodifikasi penanda epigenetik dengan cara yang signifikan. Bidang nutrigenomik mengeksplorasi peran kerja sama makanan dan epigenetik dalam memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat dapat membuka kromatin dan meningkatkan kemampuan mental melalui inhibitor HDAC, yang menghambat pertumbuhan sel kanker. Studi lain telah menemukan bahwa senyawa tertentu dalam makanan yang kita konsumsi dapat melindungi dari kanker dengan mengubah penanda metil pada onkogen (gen supresor tumor). Pada akhirnya, diet epigenetik dapat memandu seseorang menuju regimen makanan yang optimal karena studi ilmiah mengungkapkan mekanisme dasar dan dampak makanan yang berbeda terhadap epigenom dan kesehatan.

Pelajari lebih lanjut tentang tips untuk mengurangi usia biologis Anda.

Everything You Need To Know About Epigenetic Biomarkers For Biological Aging

Have you ever met someone in their 70’s who seems to defy the aging process? Biological age gives us the answer.

“It is time to classify biological aging as a disease. And with that classification, it enables us to target and treat aging rather than aging becoming unavoidable” Bulterijs et al.

Disease is a complex phenomenon that is defined as any abnormality of bodily structure or function. Aging is viewed as a natural process characterized by an individual’s decline of physiological integrity, which leads to impaired function and increased vulnerability to death.

Aging is the largest risk factor for chronic disease. Because the integrity of cells, tissues, and organs weakens over time, it contributes to the onset of various conditions and diseases.

Predating modern medicine, chronic diseases were viewed as inevitable aspects of aging; and due to this perception of age-related diseases many times, these chronic conditions wouldn’t receive any therapeutic intervention. Conditions such as heart disease, cancer, and diabetes are the leading causes of death in the US and many chronic diseases are linked to the acceleration of normal aging and enhances the risk of disease.

There have been recognized hallmarks of aging that better explain the deterioration of the body and the interconnectedness between these contributions to bodily aging. The nine tentative hallmarks of aging that represent the common denominators of aging: genomic instability, telomere attrition, epigenetic alterations, loss of proteostasis, deregulated nutrient-sensing, mitochondrial dysfunction, cellular senescence, stem cell exhaustion, and altered intercellular communication.

The nine hallmarks of aging are grouped into three categories. The primary causes of aging are the agents of bodily deterioration. The common characteristic of the primary hallmarks is the fact that they are all emphatically negative. This is the case of DNA damage, mitochondrial DNA mutations and telomere loss, epigenetic alteration, and defective proteostasis. The antagonistic hallmarks of aging have the opposite effect and can be viewed as designed for protecting the organism from damage or from nutrient scarcity, but when exacerbated or chronic, their purpose is destroyed and they will generate further damage to the body. These hallmarks are responses to damage and are deregulated nutrient sensing, mitochondrial dysfunction, and cellular senescence. The last group is the integrative hallmarks which occur when the accumulated damage caused by the primary and antagonistic hallmarks cannot be counterbalanced by tissue homeostatic mechanisms; this group are the culptis of the phenotype of an individual and includes stem cell exhaustion and altered intercellular communication.

Each of these hallmarks of aging reveals themselves during the normal process of aging and are responsible for the acceleration of aging. Understanding the interconnectedness between each of these hallmarks is paramount to how we treat aging and aging-related diseases.

Growing older, for better or worse, is central to the human experience. Less than ten years ago we believed the process of aging was an immovable element to life, like your height or eye color. Thanks to advancements in science, we have a new-found understanding that how we age is just as manageable as our body weight or your mile time.

There is increasing evidence that what is perceived as the normal process of aging is actually transformable. We should not surrender ourselves to the progression and acceleration of aging because there are many aspects to aging that can be manipulated.

We need to redefine how we look at aging by thinking about aging as malleable rather than a fixed aspect of life. Once we start thinking of aging as dynamic and changeable, we can begin to understand why everyone ages uniquely.

Biological Age vs Chronological Age

We have always thought of aging as the number of years that have passed since birth, but what if there is a more accurate way of determining the rate you age rather than just the number of candles on a cake. Chronological age is just one piece of the puzzle for determining how we age.

Biological age is how old our cells really are. This is determined by biomarkers, which are able to objectively measure the biological state of cells, tissues, and organs.

Chronological age is how old we are in years, or how many candles there are on your birthday cake.

Aging is the leading risk factor for most chronic diseases and disorders. It is this intricate concept that measures how well your body is functioning and is dependent on the biological state of your physiological systems.

The use of biomarkers of aging allows us to determine our true age without relying on how old we are chronologically.

We have long been fascinated by the fact that some people seem to age rapidly in terms of health and appearance while others age more slowly.

Your phenotype is a set of characteristics that interact with the environment and your genes. Phenotypic variation explains why some 40-year-olds have a hard time getting out of bed and why some 80-year-olds able to run marathons.

Our lifestyles and behaviors play an active role in how our genes are expressed. These influences made on our genes in turn influence our physical characteristics. People who exercise regularly and eat well will typically have a younger phenotype than those who don’t practice healthy lifestyle behaviors. Finding a reliable way to determine how your phenotype is affected by lifestyle and how it contributes to your biological age has become the next great enterprise in integrative health.

 

A biomarker is a diagnostic tool that uses a biological molecule found in the body. Typically, biomarkers are found in blood or another bodily fluid or tissue and are a sign of a normal or abnormal process, or of a condition or disease. A biomarker can also be used to see how well the body responds to a treatment for a certain condition.

The World Health Organization’s definition of a biomarker includes “almost any measurement reflecting an interaction between a biological system and a potential hazard, which may be chemical, physical, or biological. The measured response may be functional and physiological, biochemical at the cellular level, or molecular interaction.”

Since the 1980s it has been recognized that valid and reliable biomarkers of aging are needed to achieve the longstanding goal of understanding, slowing, and reversing the process of aging. The search for an accurate biomarker of aging has been highly sought after. There have been few notable biomarkers of aging; including telomeres, transcriptome profiles, protein and lipid metabolism, and nutrient sensing. All of these types of biomarkers have been used to determine biological age, yet none of them qualify as good biomarkers.

 

A biomarker needs to be able to provide clinically relevant information and needs to be effective. A good biomarker is reproducible, precise, and accurate. If it is a reliable biomarker, it has been extensively studied and replicated leaving little room for error. If the biomarker you are utilizing to assess a biological function leaves space for doubt it most likely is not a great diagnostic tool. Reliable biomarkers for aging need to be accurate and specific which is why there hasn’t been a great biological age test up until now.

Biomarkers are an objective, quantifiable measure of biological processes. A good biomarker would facilitate the differentiation of people who are of the same chronological age, yet have different rates of aging. They also have been studied across a variety of demographics and over an extended period of time.

Quantitative biomarkers of aging also define a group of measurements for ‘healthy aging’ and, even further, can predict lifespan. Also, biomarkers of aging can narrow down a specific biological feature to explain the biological process behind aging or aging-related diseases.

For decades, researchers have been in the pursuit of discovering a biomarker of aging. This would be a single test that is highly accurate at measuring your biological process of aging and could even predict your biological age.

 

Epi – is the Greek prefix for “above”. Genetics is the study of our DNA. Together, epigenetics means the study of things that are above and beyond the genome.

All of your cells contain each one of your 22,000 genes, but not all of them need to be active all the time. They need to be turned on or off, in the right tissue, at the right moment. This means we are studying the changes to your DNA and how it affects the body instead of interpreting the code.

Oftentimes, epigenetics is more useful than genetics because it allows us to see how the genetic material in your body behaves instead of merely seeing its components. Traditional genetics is like looking at a light bulb and its components but not knowing if the bulb is producing light. Epigenetics lets us know if the light bulb is on or off.

Epigenetic changes alter the physical structure of the DNA without changing the actual genetic code. DNA methylation is the most notorious type of epigenetic alteration. It is the addition of a chemical cap to a specific part of the DNA molecule and is able to manipulate how certain genes are expressed.

Epigenetics is influenced by a variety of conditions. It is surprising the number of factors that influence the expression of your genes. Both environment and lifestyle can directly interact with your genome and influence epigenetic modifications. Revealing how these components can contribute to DNA methylation enables us to unlock how old we are or how susceptible we are to an assortment of conditions.

 

Everyone knows their chronological age. However, developments in science have created another measurement of age called biological age. This measurement of age is based on statistical research that can predict how healthy you are and even when you might pass away.

Your biological age is more accurate at predicting health span (how healthy you are) and lifespan (how long you will live) than chronological age. It can be correlated to aging-related conditions such as Alzheimer’s disease and cancer.

Ideally, everyone would want their biological age to be less than their chronological age. This means that you are living a lifestyle that is healthy and will help you stay free of chronic disease longer in life.

The discovery of DNA methylation-based biomarkers was recently uncovered by innovative molecular biologists. Epigenetic age is your age determined from an advanced mathematical algorithm based on the methylation state of specific spots in your genome.

Determining biological age with epigenetics has shattered previous expectations for finding a reliable biomarker of age. The process of aging begins in our cells before physiological signs of aging begin to appear. DNA methylation is the best indicator of age-related changes and is the best-studied biomarker of age.

The use of DNA methylation as a biomarker of aging can detect the acceleration of aging before signs of aging even begin to appear.

The determination of biological age has been completely revolutionized, replacing the way we perceive and recognize the development of chronic diseases. Epigenetic biological age is a single metric that takes all of the important health data (weight, sex, medication, exercise frequency, etc.) about an individual and reports it as a single metric to tell how healthy you are!

This is a person’s age estimate in years based on the methylation state of specific spots in the DNA. The pattern of these tags changes during the course of life, and tracks a person’s biological age, which can lag behind or exceed chronological age. Advanced epigenetic aging is having an epigenetic age ratio above one. This means you are aging quicker than you should! Ultimately we want to avoid having accelerated epigenetic aging since it is strongly correlated with diseases and negative outcomes.

The epigenetic clock is created from a mathematical algorithm that uses values assigned to the methylation state of specific spots in the genome to estimate the age of a person. This is the most accurate indicator for biological age. There have been many different epigenetic clocks created that utilize attached methyl markers on your DNA. Most of these algorithms determine biological age which is a fixed number based on your biological age at the moment when you were tested. While other epigenetic clock algorithms determine your biological pace of aging, which is the rate in which you age.

(IEAA) Epigenetic modifications on our DNA aren’t the only changes that occur as we age. One of the biggest changes to our health and body is called immunosenescence. Immunosenescence is when our immune system becomes weaker and less functional as we age. This is often seen in the blood by having a fewer number of naive T cells and a higher number of senescent T cells. IEAA captures cellular age acceleration independently of blood cell proportions, which are known to change with age.

Because the DNA of these cells are found in unequal proportions as we age, we often want to control for this. Therefore, intrinsic epigenetic age is when we factor the change of these cell types out of the equation. In scientific terms, the measure of intrinsic epigenetic age acceleration measures “pure” epigenetic aging effects that are not confounded by differences in blood cell counts.

(EEAA) Extrinsic epigenetic age acceleration is also important. This is when we factor immune cells back into the equation. Scientifically put, extrinsic epigenetic age acceleration tracks both age-related changes in blood cell composition and intrinsic epigenetic changes. Extrinsic epigenetic age acceleration incorporates intrinsic measures as well as blood cell proportions.

Although intrinsic measures seem to exhibit greater consistency across cell types and organs, extrinsic measures seem to be better suited for assessing age-related decline of tissue performance as they exhibit stronger predictive associations with time to death than intrinsic measures of age acceleration.

Rate of aging is the pace in which you age. It is the change in biological age that occurs after each chronological year passes. A normal pace of aging would equal your chronological pace of aging, meaning you are aging at a pace of one year because your chronological and biological ages are the same. Ideally, we want to age biologically slower than chronologically because that would increase your longevity and vitality.

Advanced epigenetic aging is having an EpiAge™ ratio above one. This means through the lens of your DNA methylation; you are aging quicker than you should! This is ultimately what we want to avoid as advanced epigenetic age is correlated to aging diseases and more negative health outcomes.

Widya Genomic, the creator of GenomAGE is an epigenetic testing company that recognizes the need for objective information regarding aging and aging related diseases. We want to help patients and prescribers treat aging as a disease with the best up-to-date info on their own aging.

GenomAGE looks at over 900,000 places on the DNA making this the most robust biological age test available. But how do we know how this data applies to your health?

The answer is we use mathematical models built by computer learning and artificial intelligence. This model helps to design a powerful algorithm. It does this by looking at all the data points we feed it. Thus far, we have given it almost a million data points from over 5,000 patients. We also feed it other variables such as blood tests, imaging data (such as MRIs), genomic data, proteomic data, transcriptomic data and even other bits of health history.

Our algorithm has already been shown to outperform all biological clocks to date. One of the strongest things about our algorithm is that we have MASSIVE sample sizes to help validate, it provides us with the most statistically significant data available in this field. Combined with the number of spots we are testing and the covariates we are getting from our partners, we have the largest database of epigenetic information on earth.

By looking at all of this data, these mathematical models are able to find correlations with incredibly high accuracy and link those variables to health outcomes. If 2,000 patients show methylation on their DNA at the same place, and 1999 of those patients develop Alzheimer’s, we can say with a high degree of certainty that that location on the DNA can help predict risk of Alzheimer’s.

These mathematical calculations have been performed with biological aging. By comparing the biological age and chronological age of a person, we can predict their risk of many different diseases and even when they may die!

Widya Genomic is on the cutting edge of epigenetics research in Indonesia. We utilize novel DNA methylation studies and its data to determine a variety of metrics related to your health. We are constantly updating our test to report out as much information as possible on your health state. This includes your risk for a variety of diseases and conditions, like type 2 diabetes and obesity, as well as your ability to respond to therapies, such as metformin.

We determine your health metrics based on the methylation at specific spots on the genome, known as CpGs. CpGs are the spots on your DNA where methyl groups attach. They make up 1.5% of your DNA and are the locations in your genome that we analyze to assess your biological age. A CpG is where your nucleotide base, Cytosine, is followed by a guanine nucleotide in a linear sequence and they are bonded with a phosphate bond.

But, what if I could tell you there is more to CpGs and their level of methylation than just determining your biological age? An increasing amount of evidence has shown that DNA methylation plays an important role in the development and progression of many common diseases. We have now uncovered a variety of health-related conditions that can be determined by the methylation at these CpG spots.

  1. Purely personalized treatment
  2. Real-time insights
  3. Closer to phenotype
  4. The future of medicine

Epigenetic biological age is the best picture of overall health. Health is more than the absence of disease!

Most scientists and medical professionals describe aging as “a persistent decline in the age-specific fitness components of an organism due to internal physiological degeneration.” [Fiorito].

Aging is the predominant risk factor for most diseases and conditions that limit health span, therefore, interventions in animal models that end up in an extension of lifespan often prevent or delay many chronic diseases. Why? For many years the explanation was that aging per se is a physiological condition, which favors the onset of many diseases. However, the relationship between aging and disease is likely much more complex.

Aging is the loss of physiological integrity, and is the primary risk factor for major human pathologies, like cancer, diabetes, cardiovascular disorders, and neurodegenerative diseases. These hallmarks of aging contribute to the aging process and determine one’s characteristics of aging.

Aging is the predominant risk factor for most chronic diseases and conditions that limit lifespan, thus, using this as a target of optimal health makes sense! Additionally, the specificity and accuracy of epigenetic tests make this a reliable metric to judge health by limiting aging and thus reducing the significant risk factors for disease.

Luckily, epigenetic aging can be reversed and is influenced by lifestyle and environmental factors.

Epigenetic Aging can be reversed. Epigenetic aging can be reversed, so it is crucial to understand DNA methylation changes through utilizing GenomAGE. Since we know that it can be reversed, we can apply changes to our lifestyles and use GenomAGE to show that we are reducing the risk of disease and death.

Currently, innovative studies are being performed to uncover mechanisms that can reduce biological age. Research has shown that “stressors” such as intermittent fasting can prompt your body to activate the genes that help repair broken DNA and protect chromosomes. The TRIIM trial is a great example of this, where one research team ran four epigenetic clock tests and unearthed some promising findings about biological age. Using a protocol that regenerates the thymus, a small organ in the chest, they observed protective immunological changes that improved the risk for age-related diseases. Their findings lead to an average epigenetic age reduction of 1.5 years from their baseline age after only 1 year of treatment.

Although our epigenetic marks are more stable during adulthood, they are still thought to be dynamic and modifiable by lifestyle choices and environmental influence. It is becoming more apparent that epigenetic effects occur not just in the womb, but over the full course of a human lifespan. There are numerous examples of epigenetics that show how different lifestyle choices and environmental exposures can alter marks on top of DNA and play a role in determining health outcomes.

The environment is being investigated as a powerful influence on epigenetic tags and disease susceptibility. Pollution has become a significant focus in this research area as scientists are finding that air pollution could alter methyl tags on the DNA and increase one’s risk for neurodegenerative disease. Interestingly, B vitamins may protect against harmful epigenetic effects of pollution and may be enough to combat the harmful effects that particular matter has on the body.

Research has shown that “stressors” such as intermittent fasting can prompt your body to activate the genes that help repair broken DNA and protect chromosomes. Hundreds of studies have shown that dietary restriction, by inhibiting key nutrient-sensing and inflammatory pathways, activates multiple molecular pathways that promote proteostasis, genome stability, stress resistance, and stem cell function. Data collected in primates indicate that calorie restriction in combination with diet quality modifications markedly decreases the incidence of cardiovascular disease, cancer, diabetes, and attenuates age-related neurodegeneration.

Diet has been shown to modify epigenetic tags in significant ways. The field of nutrigenomics explores how food and epigenetics work together to influence health and well-being. For example, a study found that a high fat, low carb diet could open up chromatin and improve mental ability via HDAC inhibitors, which inhibit the growth of cancer cells. Other studies have found that certain compounds within the foods we consume could protect against cancer by adjusting methyl marks on oncogenes or tumor suppressor genes. Ultimately, an epigenetic diet may guide people toward the optimal food regimen as scientific studies reveal the underlying mechanisms and impact that different foods have on the epigenome and health.

Learn more about tips for reducing your biological age.