Digital Dementia, masalah mengerikan yang belum cukup diperhatikan

Di era keterbukaan informasi saat ini, gawai yang terhubung ke internet adalah sebuah piranti yang wajib untuk selalu dibawa, kapanpun, dimanapun, dalam momen apapun. Menurut data dari Hootsuite dan We Are Social yang dirilis pada tahun 2020, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 7 jam 59 menit untuk mengakses gawai setiap hari, jauh lebih lama daripada rata-rata global yang menggunakan gawai selama 6 jam 43 menit. Ketergantungan terhadap gawai menimbulkan sebuah fenomena baru yang disebut dengan Digital Dementia.

Istilah Digital Dementia muncul pada tahun 2012 saat seorang ahli neurologi Jerman bernama Manfred Spitzer merilis sebuah buku dengan judul Digital Dementia. Dalam buku tersebut, Spitzer menjelaskan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan menyebabkan gangguan pada otak dan menimbulkan gejala yang menyerupai demensia (pikun).

Mayoritas orang di seluruh dunia belum memahami bahkan cenderung mengabaikan fenomena ini. Sebuah studi yang dirilis oleh IDC dan disponsori oleh Facebook menyebut bahwa 80% pengguna ponsel pintar telah mengakses ponselnya dalam waktu 15 menit setelah bangun tidur. Kebiasaan ini bukan sesuatu yang baik untuk kesehatan. Mengakses ponsel dalam waktu kurang dari 60 menit sejak bangun tidur akan meningkatkan level stres karena penggunanya akan langsung mendapat “serangan” berupa pesan masuk, surat elektronik, rencana kerja, dan berbagai notifikasi lain.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membatasi penggunaan gawai dan hanya menggunakannya untuk keperluan yang benar-benar penting. Sebagai gantinya, Anda bisa berolahraga, bercengkerama dengan keluarga, berdoa, meditasi, atau membaca buku fisik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *